Sedikit Catatan Mengenai Sains Islam vs Sains Atheis, di rubrik Islamia, Republika, 21 Maret 2013

Tulisan ini merupakan komentar/tanggapan saya dari diskusi mengenai topik yang diangkat rubrik Islamia tersebut.

Setelah saya membaca rubrik Islamia, ada beberapa hal yang menjadi catatan saya:

1. Dikotomi sains-agama, sebenarnya buntut dari trauma Eropa terhadap agama dan mitos-mitos, pada abad pertengahan yang dipandang terlalu memaksakan kebenarannya sendiri pada sains. Ini tampak pada kasus yang dialami Galileo Galilei dan Nicolaus Copernicus.

Sains tidak bisa disandingkan dengan mitos, dan sayangnya, pada abad pertengahan, banyak yang berusaha memasukkan mitos-mitos ke dalam sains. Hal ini tidak terjadi dalam dunia Islam. Mari kita pelajari sejarah pada Dinasti Abbasiyah dan Fathimiyah. Justru pada masa kejayaannya, dua dinasti ini giat mendorong lahirnya penemuan-penemuan baru. Sains, pada waktu itu dipandang sebagai alat kemajuan sebuah bangsa. Khalifah bahkan memberikan dana yang sangat besar pada ilmuwan-ilmuwan muslim untuk melakukan penelitian. Itulah sebabnya ilmuwan pada masa itu sangat berlimpah. Khalifah membangun perpustakaan-perpustakaan besar, dan setiap perpustakaan memiliki kegiatan diskusi yang melibatkan para ilmuwan.

Maraknya kegiatan ilmiah ini membuat pemuda-pemuda Eropa waktu itu pergi ke pusat-pusat peradaban Islam seperti Cordoba untuk belajar. Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Rusyid (Averroes), Ibnu Miskawaih, Ibnu Jahrir, dll lahir pada masa-masa keemasan ini. Semangat ini didasari pada filosofi yang ada dalam Al Qur’an, yakni: Hai jin dan manusia, jika kamu sanggup melintasi langit, lintasilah, kamu takkan sanggup melakukannya tanpa kekuatan (teknologi, daya nalar, dll).

Teori evolusi dan seleksi alam Ibnu Miskawaih, lahir pada masa ini, dan saat itu, sependek pengetahuan saya, tidak ada catatan mengenai penolakan terhadap teori ini. Itu artinya, pada masa itu, diskursus ilmiah adalah wajar dan berbagai teori dilahirkan tidak untuk dijatuhkan tapi untuk diuji hingga terbukti ia benar atau tidak. Jika benar, ambil, jika salah, lemparkan.

2. Filosofi sains barat dengan Islam beda, jadi jelas tak mungkin disatukan. Karena landasannya beda, tujuannya juga beda. Sains dalam Islam dilandaskan pada semangat untuk memahami kebesaran Tuhan. Sejauh-jauhnya pencapaian akan dilakukan, sebisa mungkin, karena memang diperintahkan untuk begitu (termaktub dalam Al Quran), dan itulah salah satu tanda orang beriman. Disebutkan bahwa, orang beriman itu adalah orang yang merenungkan (memikirkan) penciptaan langit dan bumi dalam keadaan duduk, berdiri atau berbaring, pada akhirnya yang terlontar adalah “Maha Suci Allah. sesungguhnya Allah tidak menciptakan ini dengan sia-sia”. Thats the point

Di barat tentu beda. Sains membutuhkan kepastian yang bisa kau lihat di bawah mikroskop, dan Tuhan tidak bisa dilihat di bawah kaca pembesar. Sains itu eksak, Tuhan itu abstrak (dalam pengertian tak seorang pun pernah melihatNya). Sains barat tidak tahu bagaimana cara menyatukannya. Itulah yang membuatnya menjadi ateis

Sebenarnya, menurut saya, ilmuwan ateis hanya takut, bila Tuhan hadir dalam sains, maka sains kembali ke abad kegelapan, di mana sains dipenuhi dogma dan mitos.

Inilah salah satu sebab kenapa materialisme terus bertahan. No god in materialism. Kita semua berasal dari satu makhluk bersel tunggal yang berkembang hingga memiliki jutaan sel. “Jadi awalnya nothing lalu tiba-tiba kamu eksis, begitu?” demikian cemoohan yang sering terlontar dari ilmuwan ateis mengenai penciptaan. Sebenarnya, teori materi pertama atau makhluk bersel tunggal pertama ini saja mudah dipatahkan dengan satu pertanyaan:

“Jadi, dari mana materi pertama dan makhluk bersel tunggal ini hadir?” sains belum mampu menjawabnya. Sampai kapanpun perdebatan mengenai ini takkan pernah selesai, karena para pendebatnya berdiri di pondasi filosofi yang berbeda

Jadi yang bisa saya katakan adalah, untukmu pendapatmu dan untukku pendapatku. Thats it

Iklan

, , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: