Mencari Guge di Hutan Lempung

Guge berjaya selama 700 tahun. Kebijaksanaan pemerintahan raja-rajanya terkenal hingga ke berbagai penjuru. Namun, mengapa kerajaan ini tiba-tiba musnah?

Nun, di penghujung dunia sana, Tibet, 3.800 km di atas permukaan laut , sebuah kerajaan pernah berjaya melintasi zaman. Guge, membentangkan kejayaannya dari abad 10 M hingga 17 M. Kerajaan ini pernah memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan politik dan sosial Tibet.

Kerajaan Guge terletak di Zhada, Tibet. Hamparan pasir membentang sejauh mata memandang di daerah ini. Aneh, karena Sungai Xiangquanhe mengalir membelah Zhada. Nun, jauh di tepian Zhada berdiri bagai pagar alam, hutan tanah lempung, membungkus Zhada, terutama Guge dari pandangan dunia luar.

 

Yang tersisa dari Guge kini hanya reruntuhannya. Puing-puing kemegahannya, seluas 720 ribu meter persegi,  bisa ditemui di bukit kecil Zhabyran, bagian selatan Sungai Xiangquanhe. Kastil, rumah-rumah penduduk dan pagoda bisa ditemui di sini. Total ada sekitar 1.416 arsitektur yang selamat melawan waktu, terdiri atas kastil, rumah-rumah, kuil dan terowongan.  Beberapa bangunan yang cukup menarik perhatian adalah istana raja dan Kuil Merah. Pada dinding kuil ini terdapat lukisan Raja Ngari Yeshi’o sedang menyapa Atisha, seorang Budhis dari India.

Luksian mural ini memberi pengetahuan bagi kita, bahwa Guge adalah sebuah kerajaan Budha. Pada abad ke 11, di bawah kepemimpinan Raja Yeshi-O (947-1024) atau yang juga dikenal sebagai Ye Shes ‘Od, dan panduan penerjemah teks Budha, Rinchen Zangpo, banyak kuil didirikan. Berdua mereka berjuang menyebarkan ajaran Budha di Tibet Barat. Perjuangan ini tampaknya memberi perubahan pada kehidupan spiritual sang raja.Pada tahun 988 M, ia memutuskan total mengambil jalan Budha, menjauh dari hingar bingar dunia.

Yeshi-O merupakan cucu dari pendiri sebuah kerajaan besar yang meliputi Guge, Ladakh dan Zanskar. Sebelum wafat, sang raja membagi tiga kerajaannya. Sang putra sulung mendapat Ladakh, putra kedua mendapat Guge-Purang, sementara yang ketiga mendapat Zanskar. Dari anak kedua, sang raja beroleh cucu yakni, Yeshi-O yang kemudian lebih dikenal sebagai seorang Budhis.
Setelah Yeshi-O menjauh dari hingar bingar dunia, ia menyerahkan kekuasaan ke adik bungsunya, Khor re. Pada tahun-tahun setelah Yeshi-O mangkat, kehidupan politik dan pemerintahan Guge banyak diwarnai kekerasan. Dimulai dari tewasnya cucu tertua Khor re oleh Qarakhanids dari Ngari. Ia kemudian digantikan biksu Byang Chub ‘Od. Malang, pada tahun 1088, putra sang biksu tewas dibunuh oleh keponakan sang biksu. Peristiwa ini menjadi titik awal perpecahan. Kerajaan ini kemudian dibagi dua, Gege dan Purang.

Kehidupan selanjutnya tidak menjadi lebih baik. Ragam peperangan muncul. Mulai dari invasi Qarakhanid hingga perseteruan memperebutkan Purang. Dalam sebuah legenda rakyat, muncul cerita yang lebih mengerikan. Konon, tentara dari Ladakh, datang dan membantai  orang-orang Guge. Hanya sekitar 200-an orang yang selamat, dan mereka melarikan diri ke Qulong.

Tak diketahui benar apa yang terjadi pada Guge selepas konflik-konflik berdarah itu. Apakah mereka berhasil bertahan dan menjadi bagian dari kerajaan lain atau warganya memilih hidup bersama sebagai sebuah komunitas saja. Yang jelas, kerajaan besar ini perlahan hilang dan bersenyap diri di balik tembok-tembok lempung alam yang menjulang tinggi.

Pada abad 17, seorang Portugal bernama Antonio del Andrade yang dikirim ke India sebagai misionaris menemukan Guge dalam perjalanannya ke Tibet.

Dalam catatan perjalanannya, ia menulis bahwa Guge berada di daerah bergunung-gunung tinggi, di tengah padang pasir mengerikan yang hanya bisa dilewati selama dua bulan dalam setahun. Waktu untuk mencapainya adalah dua puluh hari. Tak ada pemukiman manusia dalam perjalanan tersebut, bahkan juga tanaman. Satu-satunya makanan hanyalah bekal perjalanan dan juga salju yang nyaris tak terputus sepanjang perjalanan.  Catatan itu kemudian dipublikasikan dan terus dibaca hingga hari ini. Catatan perjalanan itu bukan Cuma sangat mengesankan, tapi juga menjadi pintu Guge untuk dikenal dunia luar.

Bagi yang ingin tau Guge lebih lanjut silahkan klik di sini

(dari berbagai sumber)

gambar dari greenkiwi.co.nz

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: