Intip-Intip Pemilu AS

Beberapa pekan ini berbagai media di dunia, termasuk Indonesia memberitakan proses pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS). Pemberitaannya nyaris setiap hari. Kok heboh banget sih pemilu AS ini? Kayak nggak ada berita menarik dari negeri sendiri aja.
Hmm, teman-teman, sebenarnya menarik lho mencermati pemilu di AS. Karena sebagai sebuah kekuatan adidaya, negara ini mempengaruhi hidup banyak negara. Karena itu bisa dipastikan, siapa pun orang yang terpilih sebagai presiden, pasti akan memiliki peran sangat penting dalam stabilitas dunia.
Yuk, kita intip seperti apa sih sistem pemilu Amerika Serikat.

Duo Partai
Beda dengan Indonesia yang memiliki buanyaaak banget partai. AS cuma punya dua partai: Partai Demokrat dan Partai Republik. Meski demikian, calon presiden tidak harus kader dari dua partai ini lho. Dalam sejarahnya, banyak presiden AS yang justru bukan kader partai. Salah satu contohnya adalah Bill Clinton. Menurut Jonathan Miller, penasehat salah seorang senator Partai Demokrat, Clinton tak punya hubungan apapun dengan Partai Demokrat. Ia bahkan memulai karirnya sebagai orang luar partai. Trus apa dong yang membuat Bill Clinton terpilih sebagai kandidat presiden Partai Demokrat? Tak lain karena pribadinya.
“Pribadi selalu lebih penting dari partai atau program”, demikian kata Miller.
Menariknya, daya pikat pribadi ini tak hanya berpengaruh saat pemilihan saja, tapi juga punya peranan dalam menggalang dana kampanye. Soalnya biaya kampanye gede banget. Konon, kampanye pemilu presiden AS merupakan salah satu yang termahal di dunia. Bayangin, biaya kampanye bisa mencapai satu miliar lebih. Walaah, kalo dirupiahin 9,5 triliun, bo! Bisa beli seluruh tempe di dunia berikut pabrik-pabriknya en penjualnya sekalian (he…he..) Emang sih setiap partai membentuk komite nasional sendiri untuk menggalang dana kampanye, tapi kalau kandidat presiden yang diusung nggak mengesankan, dana kampanye bakalan seret tuh. Trus, dana ini digunakan untuk apa aja? Umumnya sebagian besar dana itu digunakan untuk pemasangan iklan dan perjalanan kampanye maraton ke seluruh negara bagian.

Proses yang Panjang dan Melelahkan
Proses pemilihan umum di Amerika Serikat berlangsung dalam beberapa tahap. Keseluruhan tahap ini memakan waktu dua tahun. Pada tahap awal, masing-masing calon membentuk komite khusus. Komite ini bertugas mempelajari peta perpolitikan AS. Selain itu, komite ini juga bertugas menggalang dana.
Nah, setelah itu diadakan pemilihan pendahuluan alias primary. Tujuannya untuk memilih satu calon presiden yang akan diusung oleh partai dalam pemilu nasional. Biasanya selain mengadakan primary, juga diadakan kaukus. Kaukus merupakan semacam pertemuan di daerah pemilihan yang berisi debat tentang isu-isu kampanye. Primary dan kaukus sama-sama bertujuan untuk memilih kandidat. Bedanya, primary diadakan pemerintah, sedang kaukus diadakan oleh kelompok sipil seperti kelompok media, LSM, dll.
Metode kaukus ini hanya digunakan oleh 12 negara bagian AS. Yakni, Iowa, New Mexico, North Dakota, Maine, Nevada, Hawaii, Minnesota, Kansas, Alaska, Wyoming, Colorado dan District of Columbia.
Setelah masa ini selesai digelarlah konvensi partai. Tujuannya untuk menetapkan calon presiden. Biasanya, calon presiden yang paling banyak mendapat dukungan dari para anggota partai, akan terpilih sebagai kandidat presiden. Untuk selanjutnya kandidat masing-masing partai akan bertarung di pentas nasional, merebut suara pemilih.
Selesai? Ah, belum. Masih ada yang namanya electoral college. Apaan tuh?

Electoral College
Electoral College adalah dewan pemilih. Merekalah yang akan memilih presiden. Jadi, bukan rakyat AS langsung yang memilih calon presiden mereka. Anggota dewan ini dipilih oleh rakyat dalam pemilu. Jadi, pas hari pencoblosan, rakyat akan memilih dua kali. Pertama, untuk memilih calon presiden, dan yang kedua memilih anggota dewan pemilih. Meski rakyat juga ikut nyoblos gambar presiden favoritnya, namun hasil coblosan itu nggak menentukan siapa yang jadi presiden. Karena yang menentukan adalah anggota dewan pemilih. Meski demikian, biasanya sih, rakyat cuma akan mencoblos gambar anggota dewan pemilih, yang berjanji memilih calon presiden tertentu. Jadi, bisa dibilang,  presiden pilihan rakyat dengan pilihan dewan pemilih, nyaris nggak  ada bedanya.
Dewan  pemilih ini berjumlah 538 orang, dan mewakili 50 negara bagian AS. Untuk menjadi presiden AS, seorang kandidat harus memenangkan setidaknya 270 suara anggota electoral college. Kalo nggak mencapat suara minimal, ya, otomatis kalah deh. Gitu….  (forum-politisi/gatra/balipost/ikastara/pasca-unsoed)

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: