Mencari Jejak Ubar, kota Yang Hilang

 islamicity.comBila melihat kondisi arab bagian selatan saat ini, mustahil rasanya, daerah ini dulunya bak zamrud khatulistiwa. Tanahnya begitu subur, hutannya lebat pekat, sambung menyambung seolah tak terputus. Paginya berselimut kabut, dan embun-embun lengket basah di rerumputan. Tak hanya itu, hewan pun melimpah tinggal di hutan ini. Membuat mereka kerap diburu, untuk dimakan maupun dijadikan persembahan. Tapi sayang,saat ini, semua gambaranindah itu seolah mitos belaka. Pasir beranak pinak dengan cepat di sini. Pertumbuhan mereka 6 inchi sehari. Dengan perkembangan sepesat itu, pasir-pasir di gurun ini, bisa mengubur bangunan dengan menara-menara tinggi sekalipun. Konon, inilah sebabnya, mengapa Kota Ubar-asng atlantis padang pasir terkubur. Hilang nyaris tanpa jejak. Mengapa kota sesubur dan semakmur ini hilang? Apa gerangan yang telah diperbuat penduduknya?

Pada mulanya keberadaan Kota Ubar dianggap cuma ada dalam legenda. Kisahnya cuma terdapat di lisan-lisan Suku Badui saja. Jadi, kisah mengenai Ubar bisa jadi benar bisa jadi juga hanya mitos belaka.

Suatu kali Bertram Thomas, seorang peneliti Inggris menemukan bahwa di masa dulu beberapa suku Arab disebut sebagai suku yang beruntung. Hal ini dikarenakan lokasi mereka tinggal berada di jalur perdagangan rempah-rempah antara India dengan semenanjung Arab. Selain itu, suku-suku yanhg beruntung ini juga memproduksi dan menjual dupa wangi yang biasa digunakan dalam berbagai ritus keagamaan. Dupa ini sangat disukai pada masa itu, sehingga bernilai mahal. Konon, nilai dupa ini sama berharganya dengan emas.

Setelah melalui penelitian yang panjang, Thomas mulai menemukan jejak-jejak kuno. Ketika ia menyusurinya, ia bertemu dengan beberapa orang Badui. Thomas kemudian diberitahu, bahwa jalur usang itu mengarah ke sebuah kota kuno yang bernama Ubar. Thomas, yang sangat berminat dengan hal ini meninggal sebelum mampu Mendengar ini Thomas sangat bersemangat, namun sayang, sebelum ia menuntaskan penelitiannya, ia keburu meninggal. Untunglah sebelum meninggal, ia sempat menulis sebuah buku berjudul Arabia Felix. Di dalamnya Thomas menuliskan hasil-hasil penelitiannya.

Buku tersebut kemudian ditemukan oleh Nicholas Clapp. Ia seorang arkeolog, sekaligus seorang pembuat film dokumenter. Setelah mempelajari buku Thomas, Ncholas Clapp memutuskan untuk meneruskan usaha peneliti Inggris itu.

Menemukan Ubar

Tak seperti Thomas yang menemukan jalur kuno itu dengan satu cara yakni manual, Clapp menemukannya dengan dua cara, manual dan menggunakan teknologi. Ia meminta bantuan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) untuk memotret daerah Arab Selatan dengan satelit.Setelah melalui usaha yang lama, pihak NASA akhirnya bersedia. Mereka membantu Clapp menemukan kota ini dengan radar dan kamera optik tahun 1984. Clapp juga mendapatkan foto-foto yang diambil dengan menggunakan pesawat Challenger. Berbekal foto ini, pekerjaan Clapp jadi sedikit lebih mudah.

Selain itu Clapp juga pergi ke perpustakaan Huntington, California. Di sana ia mempelajari berbagai manuskrip dan peta kuno. Peta ini dibuat oleh Ptolomeus tahun 200 M. Di peta ini Clapp menemukan lokasi kota kuno berikut jalan-jalan menuju kota tersebut.

Akhirnya, kota yang hilang itu ditemukan kembali. Tim peneliti menggali pasir dan mulai menemukan reruntuhan kota tersebut. Mereka menemukan reruntuhan bangunan yang terbuat dari bata lumpur, tempat wewangian dan pecahan tembikar. Namun yang khas dari kota ini adalah adanya pilar-pilar. Penemuan pilar ini membuat orang teringat dengan ayat dalam Al Qur’an yang menyebutkan bahwa Kota Iram memiliki pilar-pilar dan menara yang tinggi. Adanya persamaan ciri fisik antara Ubar dengan Kota iram seperti yang disebut dalam Al Qur’an,membuat para peneliti yakin, bahwa Ubar inilah Iram yang dimaksud. Dan penghuninya adalah Kaum Ad.

Iram dalam Al Qur’an

Kisah tentang Kota iram, bisa kita temui dalam Al Quran, surat Al Fajr ayat 6-8.

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Ad ? Yaitu penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan tinggi, yang belum pernah dibangun seperti itu sebelumnya di negeri-negeri lain”

Dari ayat di atas kita bisa mengetahui bahwa Iram dulunya kota yang sangat makmur. Penduduknya kaya-kaya. Hal ini sesuai dengan kenyataan, bahwa penduduk Iram dikaruniai keberuntungan berkat strategisnya lokasi tempat tinggal mereka. Mereka bukan hanya menjadi perantara perdagangan dari India ke Semenajung Arab, tapi juga memproduksi dupa wangi yang laris manis di pasaran. Besarnya kekayaan yang diperoleh membuat mereka mampu membuat bangunan-bangunan yang sangat megah dan indah. Bila merujuk pada ayat di atas yang mengatakan ‘belum pernah sebelumnya dibangun (bangunan) seperti itu di negeri-negeri lain,’ maka bisalah kita katakan, keindahan dan kemegahan bangunan Iram, tak tertandingi pada masanya.

Namun, sayang disayang, semua kekayaan itu membuat penduduk Iram yakni Kaum Ad, menjadi sombong bahkan zalim. Hal ini dirujuk dari ayat berikut;

Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka, Hud berkata kepada mereka : “Mengapa kalian tidak bertakwa ? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan ini, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kalian membangun pada setiap tanah tinggi (bukit) itu bangunan untuk main-main saja, dan kalian membuat benteng-benteng agar kalian (hidup) kekal di dunia ? Dan apabila kalian menyiksa, maka siksaanmu itu sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkanmu apa yang kalian ketahui. Dia telah menganugerahkan kepada kalian binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun, dan mata-air. Sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa azab yang besar pada suatu hari”. Mereka menjawab : “Sama saja bagi kami apakah engkau beri nasehat atau tidak engkau beri nasehat, (yang kami lakukan) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan para pendahulu, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat azab”. Maka mereka mendustakan Hud, kemudian Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan ayat-ayat (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang maha perkasa lagi maha penyayang. (QS Asy Syu’araa 123-140).

Begitulah, berbagai nasehat dan peringatan yang disampaikan Nabi Hud a.s, hanya bisa menyadarkan sebagian kecil saja dari Kaum Ad. Selebihnya malah mendustakan perkataan Nabi Hud.

Akhirnya, ketika kaum ini dipandang tak lagi bisa berubah, datanglah azab Tuhan kepada mereka. Bisa kita lihat pada ayat,

Adapun kaum Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. Yang Allah timpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus. Maka (jika) kamu lihat kaum Ad pada waktu itu tewas bergelimpangan, mereka seperti tunggul-tunggul (akibat tumbangnya) pohon korma yang lapuk. Maka tidak seorang pun di antara mereka yang masih tinggal (hidup)” (QS Al Haaqah 6-8).(islam101/republika/insightmagazine/migas-indonesia)

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: