Empat Syarat Jadi Pengarang Ala Buya Hamka

Seumur hidupnya, Buya Hamka telah mengarang 118 buah buku. Wuih, banyak banget ya. Aktivitas mengarang beliau memang tak terlepas dari kesukaan beliau membaca banyak buku, berkelana, serta kegemaran menimba ilmu pada banyak orang pandai. Wajar aja sih beliau bisa menghasilkan buku  sedemikian banyak. Soalnya, semakin banyak seseorang mengisi diri dengan ilmu pengetahuan, semakin banyak pula yang bisa disampaikan kepada orang lain. Ya, nggak.
Luasnya ilmu yang dimiliki, juga membuat Buya Hamka mampu melahirkan karya-karya yang tak lekang oleh zaman. Diantaranya, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Di Bawah Lindungan Kabah, dan Tafsir Al Azhar.
Wah, jadi ngiri ya sama beliau. Tapi, ngiri yang positif gitu. Ngiri yang membuat kita jadi termotivasi untuk menggali potensi lebih dalam.
Nah, bagi kamu yang suka membaca dan mengarang, Buya Hamka punya beberapa pandangan tentang dunia kepengarangan. Pandangan ini beliau sampaikan dalam pidato beliau di Taman Ismail Marzuki, bulan Maret 1970.
Menurut beliau, ada  empat syarat untuk menjadi pengarang. Pertama memiliki daya khayal atau imajinasi. Kedua memiliki kekuatan ingatan. Ketiga memiliki kekuatan hapalan. Dan yang keempat memiliki kesanggupan mencurahkan tiga hal tersebut menjadi sebuah tulisan.
Mengenai imajinasi ini Buya Hamka menyatakan, setiap pengarang harus mengerti batasaan-batasan tertentu dalam berimajiansi. Di mana letak batasan itu? Buya Hamka mengemukakan, bahwa batas-batas imajinasi tidak bisa ditentukan dari luar, tapi harus menurut akal dan batin si pengarang. Dalam mengarang seseorang tidak bisa mendustai dirinya sendiri. Oleh karena itulah batas imajinasi terletak pada pribadi pengarang. Pengarang yang jujur dalam berimajinasi tentu tidak akan mengimajinasikan Tuhan berkacamata. Juga tak akan membuat Jibril mewujud sebagai penjual sayur.
Selain itu, Buya Hamka mengatakan, setiap pengarang memiliki kebebasan. Meski demikian ia tetap terikat oleh hal-hal lain di luar dirinya, termasuk kebebasan orang lain. Kebebasan yang sejati ialah pengabdian secara sukarela. Dan kebebasan yang sebenarnya ialah menenggang orang lain.
Trus, bagi kamu-kamu yang ingin menulis tapi masuh ragu, ada baiknya dengarkan perkataan Buya Hamka berikut. “Banyak kawan saya yang terlalu takut mengarang, maju-mundur, sehingga tidak pernah mengarang. Mereka tidak punya keberanian, karena ingin karangannya sempurna. Mana ada di dunia ini yang karangannya sempurna?”
Betul. Nggak satu orangpun bisa membuat karangan sempurna, karena itu jangan ragu menulis. Ayo kita tiru Buya Hamka yang tak pernah gamang menuliskan pikirannya. Buktinya, di usia 17 tahun beliau sudah membuat buku berjudul Khatibul Ummat, yang terdiri atas 3 jilid.(komunitas-nuun/pmails)

Iklan
  1. #1 by subkioke on 24 Juni 2008 - 15:51

    SAYA PENGAGUM HAMKA
    SEMUA NOVELNYA SAYA BACA

    SAYA MENANGIS MEMBACA NOVEL “TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WICJK”

    SAYA INGIN SEKALI BISA MENULIS SEPERTI BELIAU
    YANG PANDAI MENULIS DAN JUGA ORATOR ULUNG

    ALLOHUMAGHFIRLAHU WARHAMHU …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: