Animasi di Balik Layar

Kita sering dibikin terkagum-kagum setiap kali nonton film animasi. Tokoh-tokoh film itu, meski cuma kartun, tampak hidup dan berjiwa. Saking hidupnya, kita sering terbawa emosi kala menontonnya. Lihat saja film-film animasi beken semisal Shrek 1 dan 2, Finding Nemo, Toy Story, Chicken Run, Ice Age dan Dinosaur. Semua film ini mampu memancing tawa, juga keharuan. Jadi bertanya-tanya, kok bisa ya para tokoh kartun ini jadi sedemikian hidup.

Susah-susah Gampang
Ternyata nggak gampang bikin film animasi. Prosesnya rumit dan melelahkan. Kalau nggak sabar, nggak bakal bisa bikin film ini. Bayangkan aja, untuk adegan sepanjang satu detik, bisa membutuhkan lebih 24 gambar. Hitung sendiri, berapa gambar yang dibutuhkan untuk film berdurasi 90 menit. Belum lagi kalau dalam satu adegan ada banyak gambar yang bergerak. Misalnya pergerakan daun, ekspresi tokoh, rambut yang berkibar di tiup angin, ekspresi lawan bicara, dll. Bisa menghabiskan ratusan ribu gambar tuh. Sebagai contoh, untuk menggambarkan helai-helai rambut tokoh cerita film Final Fantasy saja, membutuhkan lebih kurang 6000 gambar.
Besarnya pekerjaan membuat film animasi, juga diperlihatkan dari banyaknya komputer yang dipakai. Film Madagascar, konon membutuhkan 2.500 komputer Linux Cluster. Komputer sebanyak itu digunakan untuk rendering frame. Rendering itu maksudnya memproses material animasi yang ada di komputer hingga menjadi file animasi yang siap kamu nikmati di layar kaca. Waktu yang dibutuhkan untuk rendering tiap frame (adegan) lama banget. Bisa 2-3 jam. Untuk gambar yang lebih kompleks, bisa memakan waktu 10 kali lebih lama. Nggak heran kalo produksi film animasi nggak banyak. Soalnya, pembuatan film ini bisa memakan waktu tahunan. Seperti Final Fantasy yang membutuhkan waktu 4 tahun.

Rumit dan Mahal
Trus, gimana sih prosesnya hingga sebuah gambar menjadi film animasi? Ada beberapa tahapan yang harus dilalui.
Pertama, pembuatan Storyboard. Storyboard adalah lembaran berisi adegan demi adegan film. Mirip  komik. Storyboard ini merupakan patokan gerakan dan dialog dalam film.
Kedua, penciptaan tampilan. Berdasarkan storyboard, tim animator mulai bekerja membuat gambar-gambar untuk film.
Ketiga, pembuatan model. Di sini, setiap karakter film, akan dibuatkan patung modelnya. Selanjutnya di-scan dengan teknik tiga dimensi atau bisa juga langsung dibuatkan model 3-D nya di komputer. Selanjutnya tugas animator untuk membuat karakter bergerak.
Keempat, penggarapan scene. Di bagian ini, kru lay out mulai memasukkan karakter-karakteryang telah dibuat ke dalam set. Tahap ini udah mulai menggunakan kamera untuk menangkap emosi dan inti cerita setiap scene.
Kelima, sentuhan animasi. Selanjutnya, para animator mengatur gerakan-gerakan serta ekspresi wajah karakter dalam setiap scene.
Keenam, rendering. Setelah itu, gambar-gambar yang ada mulai diolah di komputer.
Ketujuh, setelah selesai, pekerjaan mulai memasuki tahap evaluasi.  Editor akan mengevaluasi seluruh unsur yang dipakai. Mulai dari musik, sampai ke efek yang dipakai. Kemudian, frame-frame digital ini akan direkam ke dalam film. Selesai deh semuanya.
Lumayan ribet juga ya bikinnya. Nggak heran kalo harga pembuatan satu film animasi bisa mencapai angka seratus juta dollar.
Tapi, meski pembuatannya mahal, film jenis ini banyak dilirik produser. Soalnya, banyak yang suka sih. Termasuk kamu kan? (mediajogja.net/sinar harapan/hai/kapanlagi/pikiranrakyat)

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: