Hati Senang, Sakitpun Hilang

Sebenarnya keampuhan tawa untuk menyembuhkan penyakit telah diketahui sejak lama. Voltaire, sastrawan Perancis yang hidup pada abad ke-18, pernah menyebutkan bahwa seni penyembuhan adalah membuat pasien terus merasa gembira, sementara alam menyembuhkan penyakitnya.

Sementara itu, penelitian mengenai dampak tawa bagi kesehatan telah ada sejak tahun 1930-an. Meski demikian, orang yang pertama kali berhasil melakukan penyembuhan dengan tawa adalah Norman Cousins.
Pada tahun l964, dokter mendiagnosa Norman Cousins, editor Saturday Review Magazine, menderita ankylosing spondylitis. Sejenis penyakit rematik yang melumpuhkan dan sangat menyakitkan. Peluang untuk sembuh kecil sekali yakni, 1:500. Meski demikian Norman tetap berupaya menyembuhkan penyakitnya dengan meminum berbagai macam obat, sayang hasilnya nihil.
Lalu sebuah keajaiban datang. Ia teringat sebuah kalimat yang ditulis seorang raja yang hidup sekitar 2.000 tahun lalu.  “Hati yang puas, obat yang sangat ampuh.” Ia pun mendapat ilham.
Atas persetujuan Dr. William Hitzig yang merawatnya, Norman menggantikan semua obat yang diminumnya dengan banyak tertawa plus mengonsumsi vitamin C. Ia menonton berbagai film komedi.  Ia menikmati tertawa terbahak-bahak, dengan bebas dan lepas. Ia lantas menemukan hal baru. Jika ia tertawa selama 10 menit, ia bisa tidur pulas dua jam. Bila nonton film komedi selama 30 menit, ia bisa tidur nyenyak tanpa rasa sakit sama sekali. Pada hari kedelapan setelah menjalani kegiatan tersebut, Norman sudah bisa menggerakkan jempolnya tanpa rasa sakit. Enam bulan setelah menjalani terapi tawa ini, ia dinyatakan sembuh total.
Pengalaman ini akhirnya ia tulis dalam sebuah buku yang berjudul An Anatomy of Illness. Terbitkan tahun 1979.
Di dalam buku ini, Cousins mengatakan, ia percaya tertawa bisa memunculkan kegembiraaan, harapan, rasa percaya diri, dan rasa cinta. Cousins kemudian menghabiskan waktunya hingga 12 tahun di UCLA Medical School, Department of Behavioral Medicine untuk menemukan pembuktian ilmiah dari keyakinannya itu. Cousins juga mendirikan The Humor Research Task Force yang mengkoordinasi dan mendukung penelitian klinis mengenai humor di seluruh dunia.
Langkah Cousins ditiru seorang dokter spesialis anak dari Virginia Barat bernama Hunter Adams. Adams membawa nuansa humor setiap kali ia mengunjungi pasiennya. Ia mengenakan kostum badut, lengkap dengan hidung karetnya. Menurut Adams, kegembiraan jauh lebih penting dari obat-obatan.

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: