Pahlawan dan Enam Tahap Perjalanannya

Pahlawan!/Untukmu derita untukmu penjara/bukan bintang tersemat di dada/semangatmu api negara berdaulat/namamu terukir di jantung rakyat (Pahlawan Kemerdekaan—Usman Awang).

Kita memeringati Hari Pahlawan pada 10 November. Terbersit satu pertanyaan. Apakah peringatan Hari Pahlawan Indonesia hanya akan menjadi rutinitas tahunan? Yang hanya dikenang sebentar saat upacara, itupun (mungkin) sambil menggerutu.

Selesai upacara, usailah semua. Tak ada lagi kenangan akan kebesaran orang-orang masa lalu, yang berhasil menyatukan 17.000 pulau ke dalam sebuah buhul bernama Indonesia. Pmailis, Insting kali ini, akan mengajak kita bersama mereview kembali, secuil kenangan tentang kisah beberapa orang hebat Indonesia di masa lampau.
The Hero Journey
Thomas Carlyle, pemikir terkemuka dari Skotlandia pernah menyebutkan kriteria pahlawan dalam bukunya Helden en Helden Vereeing. Menurutnya, pahlawan adalah sumber dari segala perubahan. Mereka adalah manusia besar yang mengubah sejarah. Bila kita bersandar pada teori Carlyle, kita bisa menemukan tautannya dalam diri tokoh-tokoh besar Indonesia masa lalu. Tokoh-tokoh seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Agus Salim, Buya Hamka, Sjafruddin Prawiranegara, Pangeran Diponegoro, Kapitan Patimura dan yang lainnya, adalah orang-orang yang berhasil merubah sejarah Indonesia.
Menurut Ahli Mitologi Joseph Campbell, seorang pahlawan melewati 6 tahap penting kehidupannya yang disebut The Hero Journey. Yakni innocence, the call, initiation, allies, breakthrough, dan celebration. Pada tahap innocence, mereka adalah orang biasa. Kemudian mereka tiba-tiba mendapatkan panggilan hidup (the call) yang tidak bisa ditolak. Panggilan tersebut mengharuskan mereka melewati cobaan-cobaan berat (initiation). Untuk melewati cobaan tersebut, mereka sering dibantu beberapa teman-teman setia (allies) yang akhirnya membawa mereka mencapai terobosan (breakthrough) dan keberhasilan (celebration).
Mari kita mengambil contoh seorang Soekarno. Presiden pertama Republik Indonesia. Panggilan jiwa untuk membebaskan Indonesia dari cengkeraman penjajah mungkin muncul sejak ia masih kecil, tapi baru menemukan salurannya ketika ia bertemu Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam. Soekarno kemudian mendirikan Partai Nasional Indonesia. Karena aktivitas politiknya di PNI ia mulai diawasi Belanda, hingga akhirnyaditangkap dan diasingkan. Namun, semangatnya tak pudar. Ketika dibebaskan, ia langsung berdiri di garda terdepan, memimpin perlawanaDn terhadap Belanda.
Kisah Mohammad Hatta tak jauh berbeda. Ia mulai berinteraksi dengan dunia politik ketika menjadi aktivis Jong Sumatranen Bond (JSB) Cabang Padang di usia remaja (15 tahun). Kesadaran politiknya makin berkembang setelah rutin mengikuti berbagai pertemuan politik. Dalam memoirnya, Hatta mengatakan Abdoel Moeislah penyala semangatnya yang terbesar.
Cobaan mulai datang bertubi-tubi ketika ia bergabung dengan Club Pendidikan Nasional Indonesia. Aktivitas organisasi ini adalah memberikan pelatihan kesadaran politik pada rakyat. Hatta pun diasingkan ke Digul dan Banda selama 6 tahun. Namun, layaknya Soekarno, semangat perjuangannya pun tak pudar. Ia terus berjuang di garis terdepan pergerakan nasional. Tahun 1945, secara aklamasi Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden RI.
Kisah tokoh-tokoh lainnya pun tak kalah luar biasa. Seperti kisah Jenderal Sudirman yang memimpin pasukan TNI dengan sebelah paru-paru. Sjafruddin Prawiranegara yang harus menyelamatkan NKRI dengan memindahkan ibukota ke Sumatra Barat pada peristiwa PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia). Juga kisah Mohammad Natsir yang berhasil menyelamatkan NKRI dengan Mosi Integralnya (penyatuan Indonesia). Semua kisah para tokoh ini sangat heroik, mengesankan dan dramatis. Bahkan bukan hanya mereka, orang-orang yang menantang maut dengan mengirimkan telegram ke berbagai tempat untuk menyatakan Indonesia masih ada pada dunia dalam peristiwa PDRI tahun 1948-1949, juga pahlawan besar. Meski nama mereka nyaris tak tercantum dalam buku sejarah. Sebab, berkat kegigihan, ketabahan hati, dan keberanian mereka menghadapi cobaanlah, kita bisa bersatu, dari Sabang sampai Merauke sebagai sebuah negara bernama Indonesia.
Sungguh jika hilangmu tanpa pusara/jika pusaramu tanpa nama/jika namamu tanpa bunga/ maka biarkan kami mengucap namamu di dalam doa. (yulian.firdaus/timpakul/itpin/batampos/wordpress)
Petikan syair(yang bergaris miring) di paragraph terakhir berasal dari puisi Pahlawan Kemerdekaan karya Usman Awang

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: