Rumi, Berkubur di Hati Manusia

Kami adalah bahagian daripada Adam, bersamanya kami dengar
Nyanyian para malaikat dan serafim

(Musik Kenangan—Jalaludin Rumi)
2103sunda.jpg
Sungguh, di dunia yang panas oleh desing peluru, tangis anak kehilangan ibu, perang yang jadi benalu, kehadiran Rumi seperti air sejuk di terik berdebu. Puisi-puisinya yang banyak berseru tentang cinta kasih, toleransi dan perdamaian seperti penawar hati yang luka. Jiwa yang kering dari spiritualitas, seolah menemukan periginya. Karena itulah, meski abad-abad telah berlalu, karya-karyanya tetap menemukan relevansinya di dunia modern. Kita semua tetap butuh Rumi untuk menyadarkan kembali, akan makna cinta yang kini banyak terlupa. Karena itu tak berlebihan kiranya, tahun ini ditetapkan UNESCO sebagai Tahun Jalaludin Rumi.  Di bulan kelahirannya ini, September, hampir separuh warga dunia memperingati 800 tahun Rumi. Sebabnya jelas; agar pesan cinta Rumi ratusan tahun silam, kembali bergaung di dunia yang semakin kejam oleh dendam.
**
Rumi lahir di Balkha (salah satu wilayah Afghanistan), 30 September 1207. Nama aslinya Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Kata Rumi yang digunakan belakangan, mengacu kepada tempat dia menetap hingga akhir hayatnya, Konya yang dahulu dikenal sebagai Rum.
Rumi tumbuh sebagai anak yang sangat cerdas. Konon ketika usinya 5 tahun, seorang tokoh sufi bernama Faridudin Attar pernah berkata, Rumi kelak akan jadi tokoh spiritual besar. Kemudian hari, perkataan itu terbukti.
Rumi dibesarkan di tengah keluarga religius dan penuh cinta. Ayahnya Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama sangat kharismatik. Tinggi ilmunya dan luas kebijaksanaannya. Karena itu ia digelari Sulthanul Ulama. Namun karena iri dengki dan fitnah ia kemudian diusir dari Balkha. Sejak itu ia bersama keluarganya hidup berpindah- pindah. Mereka pernah tinggal di Baghdad, Makkah, dan terakhir menetap
di Konya, Turki. Oleh Raja Konya, Alauddin Kaiqubad, ayah Rumi kemudian diangkat sebagai penasihat dan pimpinan sebuah madrasah.
Rumi menghabiskan masa kecil dan remajanya untuk menuntut berbagai ilmu. Mulai dari ilmu agama seperti hadist dan fikih, juga matematikan dan astronomi. Selain berguru pada ayahnya, Rumi juga berguru pada sahabat ayahnya, Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi. Setelah ayahnya dan Burhanuddin wafat, Rumi dipercaya menggantikan mereka berdua sebagai guru madrasah.
Hidup Rumi berubah ketika ia bertemu seorang sufi bernama Syamsi Tabriz tahun 1244. Tabriz banyak mengajarkan Rumi rahasia-rahasia terdalam agama. Lewat Tabriz juga, Rumi mempelajari mistik cinta (tasawuf). Persahabatan mereka sedemikian erat dan dalam, sehingga ketika Tabriz meninggalkan Rumi secara tiba-tiba pada 5 Desember 1248, ia jadi sangat terpukul. Ia mencari Tabriz hingga ke Damaskus namun hasilnya nihil. Kesedihannya kehilangan Tabriz diungkapkan dalam kumpulan syair Diwan Syamsi Tabriz.
Sahabat sejiwa memiliki arti penting bagi Rumi. Karena itu ketika kemudian ia menemukan Syaikh Hasimuddin, seorang sufi, Rumi merasa sangat bahagia. Hasimuddin menjadi sumber inspirasi syair-syairnya. Atas dorongan Hasimuddin pula, selama 15 tahun terakhir masa hidupnya, Rumi berhasil menghasilkan himpunan syair mengagumkan yang diberi nama Matsnawi. Terdiri atas enam jilid, berisi 20.700 bait syair. Dalam Matsnawi, ajaran cinta kepada Tuhan disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Matsnawi kemudian menjadi masterpiece Rumi. Selain itu Rumi juga menulis Ruba’iyyat, Fiihi Maa fiihi (himpunan ceramahnya tentang metafisika), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).
Selain itu Rumi juga mengembangkan Tarekat Maulawiyah. Para penganut tarekat ini dikenal dengan tarian berputarnya.
Pada 17 Desember 1273, Rumi dipanggil ke Rahmatullah. Ribuan orang berdesak-desakan ingin  mengantarkan kepulangannya. Termasuk kaum Yahudi dan Nasrani. Ajaran cinta dan toleransi yang disampaikannya membekas dalam benak setiap orang. Di papan nisannya dipahat kata-katanya yang terkenal, “Saat kita mati, janganlah mencari makam kita di bumi tapi temukanlah di hati manusia.”
Ya, meski telah lewat 800 tahun, makamnya tetap mendekam sempurna di hati kita yang mencintainya. (berbagai sumber)

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: