Mahkota Aceh di Rambut Perempuan

Ternyata, di kerajaan-kerajan Islam Indonesia, khususnya di Aceh, pernah memerintah ratu-ratu Islam. Berikut beberapa diantaranya.

Ratu Safiatuddin
Bergelar Paduka Sri Sultana Ratu Safiat ud-din Taj ul-’Alam Shah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Shah. (panjang bangeeet!). Dilahirkan dengan nama Putri Sri Alam. Safiat ud-din Taj ul-’Alam memiliki arti “kemurnian iman, mahkota dunia.” Ia memerintah antara tahun 1641-1675. Ia gemar mengarang sajak dan cerita. Dimasanyalah berdiri perpustakaan Aceh. Sebelum ia menjadi ratu, Aceh dipimpin oleh suaminya,  Sultan Iskandar Thani (1637-1641). Setelah Iskandar Thani wafat amatlah sulit mencari pengganti laki-laki yang masih berhubungan keluarga dekat. Terjadi kericuhan dalam mencari penggantinya. Kaum ulama dan wujudiah tidak menyetujui jika perempuan menjadi raja dengan alasan-alasan tertentu. Kemudian seorang ulama besar, Nurudin Ar Raniri, menengahi kericuhan itu dengan menolak argumen-argumen kaum ulama, sehingga Ratu Safiatuddin diangkat menjadi ratu. Ratu Safiatuddin memerintah selama 35 tahun. Ia membentuk barisan perempuan pengawal istana yang turut berperang dalam Perang Malaka tahun 1639. Ia juga meneruskan tradisi pemberian tanah kepada pahlawan-pahlawan perang sebagai hadiah dari kerajaan. Sejarah pemerintahan Ratu Safiatuddin dapat dibaca dari catatan para musafir Portugis, Perancis, Inggris dan Belanda. Ia menjalankan pemerintahan dengan bijak, cakap dan cerdas. Pada pemerintahannya hukum, adat dan sastra berkembang baik.

Sri Ratu Inayat Syah Zakiatuddin Syah

Ia seorang ratu yang bijak dan berpengetahuan luas dalam berbagai bidang. Ia bahkan menguasai bahasa Arab, Persia, Urdu, Spanyol dan Belanda yang dipelajarinya dari seorang perempuan Belanda yang bekerja di kraton Daud Dunia sebagai Sekretaris sultanah. Kaum Wujudiah penentang sultan perempuan mulai kembali menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap kepemimpinan perempuan. Mereka mengadu ke Syarif di Mekah yang lantas mengirim utusan ke Aceh. Kenyataannya utusan tersebut justru terkagum-kagum melihat kemakmuran Banda Aceh sebagai kota internasional. Ratu Zakiatuddin memerintah 10 tahun lamanya sampai ia wafat pada 3 Oktober 1688.(berbagai sumber)

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: