Oh, Nauru Kian Pilu

Setelah eksplorasi phospat besar-besaran selama puluhan tahun, kini Nauru menuai akibatnya. Menurut investigasi Greenpeace, 90% wilayah Nauru mengalami kerusakan parah dan perlu direhabilitasi. Itu berarti hanya sekitar 2 km persegi saja wilayah Nauru yang layak huni.

Greenpeace juga menemukan sebaran racun akibat aktivitas pertambangan di tiga tempat. Zat-zat beracun itu yakni Polychlorinated biphenyls (PCBs), Asbestos, Polyvinyl chloride plastic (PVC) dan metal.
Kerusakan yang luar biasa ini memerlukan masa rehabilitasi yang sangat lama dan biaya mahal. Nauru harus mengimpor pupuk, humus, dan nutrien penting lainnya untuk membangun kembali ekosistemnya. Biayanya sekitar 200 juta dolar dan prosesnya memakan waktu 30 tahun. Hal paling krusial dilakukan adalah mereklamasi kembali wilayah pertanian, sumber air bersih, peternakan, dan plantasi pepohonan. Kalau langkah ini tak dilakukan, maka seluruh penduduk Nauru harus bermigrasi ke daerah lain. Bila tetap tinggal di Nauru mereka akan menderita berbagai penyakit akibat pertambangan, kelaparan dan ketiadaan air. Pilihan daerah migrasi adalah pulau-pulau kosong di wilayah Kepulauan Pasifik.
Pemerintah Nauru berniat mereklamasi kembali wilayahnya. Untuk itu tahun 1989, mereka mengajukan tuntutan terhadap Australia di Pengadilan Internasional. Nauru menuntut Australia untuk membayar kompensasi atas kerusakan lingkungan yang dilakukan perusahaan pertambangannya. Perusahaan itu sendiri sebenarnya merupakan konsorsium tiga negara, yakni Australia, Inggris dan Selandia Baru. Australia mengelak dari tuntutan ini dan menuding Nauru sebagai pihak yang seharusnya bertanggungjawab. Sebab negara ini merdeka dari Australia tahun 1968. Dan sejak itu pertambangan phospat Nauru dikelola putra daerah, bukan lagi oleh perusahaan konsorsium tersebut.
Tahun 1992, Pengadilan Internasional mengabulkan gugatan Nauru. Menurut putusan pengadilan, Australia dan dua negara lainnya (Inggris dan Selandia Baru) harus ikut bertanggungjawab terhadap kerusakan lingkungan Nauru, karena mereka ikut mengeksplorasi tambang ini sebelumnya.
Tahun 1993 tiga negara tersebut diwajibkan untuk membayar ganti rugi. Australia harus membayar kompensasi sebesar 107 juta dolar Australia, sedang Inggris dan Selandia Baru, masing-masingnya 12 juta dolar.

Dinaungi Awan Kelabu
Awan kelabu mengiringi masa depan Nauru. Kompensasi yang diberikan tiga negara tersebut sama sekali tak menolong Nauru. Dana yang ada justru dihabiskan untuk menghidupi Nauru. Bila dana habis tak jelas bagaimana lagi nasib negara kecil ini. Sekarang saja, APBN Nauru tinggal beberapa juta dolar saja.
Masih gelap bagaimana mereka menyongsong masa depan. Satu-satunya tulang punggung perekonomian mereka telah habis. Mereka tak punya potensi ekonomi lainnya seperti pariwisata. Rakyat Nauru pun terbiasa malas, tidak tahu cara bekerja keras. Kisah Nauru ini pelajaran bagi Indonesia. Bila kita terus mengeksplorasi alam membabi buta, bukan mustahil di masa depan kita pun akan bernasib sama. (Maya)

Iklan

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: