Nenek Moyangku dari Afrika

Kamu-kamu yang suka belajar sejarah pastilah akrab dengan yang namanya Pithecantropus erectus, robustus atau manusia Neanderthalensis. Itu lho manusia purba berwajah mirip kera. Begitulah adanya manusia zaman dulu. Mereka semua tengah mengalami evolusi dari kera menjadi manusia. Karena itu banyak yang menyebut nenek moyang kita sebenarnya adalah kera (tapi kayaknya gak ada yang sudi dibilang turunan kera).
Ternyata penelitian terbaru terhadap manusia Neanderthalensis menunjukkan, sebenarnya mereka identik dengan kita. Berdasarkan tes DNA, tingkat kesamaan itu mencapai 99,5-99,9%. Itu artinya, jika kita berpapasan dengan mereka di jalan, kita pasti akan menduga mereka jenis homo sapiens (manusia modern) juga. Sebab tampilan fisiknya sama kayak kita.
Bertolak dari penemuan ini, para ilmuwan makin giat meneliti fosil. Di antaranya sebuah fosil yang ditemukan di Afrika. Ketika usia fosil diteliti, para ilmuwan mendapat hasil mengejutkan. Fosil itu berusia 60.000 tahun. Ternyata, fosil dari Afrika itu menguatkan teori banyak ilmuwan selama ini, bahwa 60.000 tahun silam telah terjadi migrasi manusia besar-besaran dari Afrika ke berbagai dunia. Diperkirakan, berkat migrasi inilah, dunia jadi penuh oleh manusia .
Untuk membuktikan teori tersebut, The National Geographic Society bekerja sama dengan ahli genetis Spencer Wells dan Waitt Family Foundation meluncurkan sebuah proyek besar bertajuk Genographic Project (proyek pemetaan gen). Proyek berjangka lima tahun ini bertujuan untuk memahami sejarah manusia sejak dari awalnya. Bagaimana manusia muncul, mengapa manusia bermigrasi, dan mengapa tampilan fisik manusia berbeda-beda, padahal kita semua berasal dari nenek moyang yang sama. Ada yang berkulit putih dengan mata sipit, rambut pirang dengan kulit merah, atau kulit sawo matang dengan rambut hitam kecoklatan. Proyek ini rencananya akan mengambil sampel darah 100.000 relawan dari seluruh dunia untuk diteliti DNAnya. DNA-DNA ini akan dibandingkan satu sama lain lalu dipetakan. Berdasarkan pemetaan ini, nantinya akan diketahui sejarah migrasi manusia selama 150.000 tahun terakhir (wuah… luar biasa).

Migrasi Afrika
Menurut Steve Olson, peneliti The Institute for Genomic Research —dikutip dari Serambi Online—setiap orang dari enam miliar penduduk bumi saat ini sesungguhnya berasal dari keturunan sekelompok kecil manusia modern di timur Afrika. Kelompok yang dinamai homo sapiens ini diperkirakan muncul sekitar 150.000 tahun silam. 50.000 tahun kemudian, mereka bermigrasi ke utara di sepanjang Lembah Nil, melintasi Jazirah Sinai menuju Timur Tengah. 60.000 tahun lalu, manusia yang masih tertinggal di timur Afrika bergerak di sepanjang pantai Jazirah Arab, India, dan Asia Tenggara, lalu berlayar ke Australia. Sekitar 40.000 tahun lampau, mereka yang berada di Timur Tengah pindah ke Eropa. Mereka yang menghuni Asia Tenggara bergerak menuju Asia Timur. Terakhir, lebih dari 10.000 tahun silam, manusia modern menjelajahi dataran luas Siberia, menyeberangi Selat Bering, kemudian menyebar ke bagian utara dan selatan Amerika.
Migrasi tersebut tidak memengaruhi DNA secara signifikan. Hal ini ditunjukkan dari adanya kesamaan pola DNA seluruh manusia saat ini. Tingkat kesamaan ini mencapai 85%. 15 persen sisanya merupakan variasi genetik yang mengakibatkan perbedaan ciri fisik kita.
Dengan demikian bisa disimpulkan, sesungguhnya hanya ada satu ras di dunia ini, yakni ras manusia. Sebab kita semua—baik itu manusia Afrika, Cina, Eropa atau Asia Tenggara ternyata berasal dari tempat yang sama, Afrika.

Perubahan Pandangan
Jika Genographic Project berhasil, kita semua bukan hanya mendapat jawaban tentang migrasi besar-besaran nenek moyang kita dahulu, tapi juga akan mengalami perubahan pandangan terhadap ras. Seperti kita ketahui, munculnya paham rasisme selama ratusan tahun disebabkan oleh kesalahpandangan terhadap manusia lain. Rasisme menganggap ada manusia ras tinggi, karena mereka mengalami evolusi lebih cepat, dan ada ras rendah, yang berevolusi lebih lambat. Umumnya kaum kulit putih menganggap kedudukan mereka lebih tinggi dari kulit berwarna. Hal ini bisa dilihat dari ungkapan Ernst Haeckel pada Wonder of Life (1905), “Ras-ras rendah, seperti orang-orang Veddah (penduduk Aborigin Sri Lanka) atau Negro, secara fisiologis lebih dekat dengan binatang mamalia, kera, dan anjing daripada dengan orang-orang Eropa yang beradab. Karenanya, kita harus memandang kehidupan mereka secara sepenuhnya berbeda”
Mudah-mudahan, berkat Genographic Project pandangan rasis ini akan hilang. Karena ternyata, tak ada manusia ras tinggi atau rendah di dunia ini. Yang ada hanya manusia sebagai satu suku bangsa, sebab kita berasal dari nenek moyang yang sama, nenek moyang Afrika. **

Iklan
  1. Rekam Jejak Waktu Penghuni Nusantara « Peradaban Nusantara
  2. Rekam Jejak Penghuni Nusantara | Peradaban Manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: