Nasib Malang Ota Benga

Rasisme, sebuah paham yang berawal dari kesalahpandangan terhadap manusia dan ras banyak menerbitkan kisah memilukan. Diantaranya kisah tragis yang dialami Ota Benga, seorang lelaki dari Suku Pigmi, Afrika Tengah.
Di awal abad 20, sejumlah ilmuwan pro teori evolusi (evolusionis) berusaha mencari makhluk separo manusia separo kera yang diperkirakan masih hidup. Menurut mereka, jika ada ras yang berhasil berevolusi secara cepat (seperti bangsa Eropa), maka pastilah ada yang evolusinya lebih lambat. Dalam pencarian mereka di Afrika, para ilmuwan i bertemu dengan Ota Benga, lelaki Afria yang memiliki istri dan dua anak. Ot Benga, seperti layaknya warga suu Pygmi lain hanya memiliki tinggi kurang dari 127 cm. Para ilmuwan ini mengira Ota Benga adalah makhluk yang mereka cari. Mereka pun menangkap lelaki malang ini tahun 1904 dan di bawa ke Kebun Binatang Bronx, New York. Ota Benga ditempatkan dalam kandang bersama beberapa simpanse, gorila dan orang utan. Ia diperkenalkan sebagai mata rantai transisi evolusi manusia.
Direktur kebun binatang tersebut, Dr. William T. Hornaday, memberikan sambutan panjang lebar tentang betapa bangganya ia memiliki “bentuk transisi” kera menjadi manusia yang luar biasa di kebun binatangnya.Ia memperlakukan Ota Benga layaknya binatang. Karena tertekan, Ota Benga akhirnya bunuh diri. Kisah memilukan Ota Benga dibukukan oleh Philips Verner Bradford, Harvey Blume, dengan judul Ota Benga: The Pygmy in The Zoo.

Iklan
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: