Komik Indonesia. Susahnya Jadi Anak Tiri

Meskipun kurang dilirik penerbit dan pembaca lokal, sebenarnya komik Indonesia tak kalah bagusnya dengan komik luar. Sejarahnya pun sangat panjang. Menurut Arswendo Atmowiloto relief-relief pada Candi Borobudur merupakan bentuk awal komik Indonesia. Rangkaian relief-relief itu membentuk sebuah cerita. Bentuk komik juga dapat ditemukan pada kesenian Wayang Beber yang populer di Jawa. Bedanya, narasi diucapkan oleh dalang, bukan dituliskan.
Tak ada sumber pasti kapan pertama kali Indonesia mempublikasikan komik dalam bentuk cetak (berbentuk buku/komik strip). Namun bisa jadi serial Se Swee di koran Sin Po lah komik pertama, dipublikasikan tahun 1930. Komik ini anonim, dan dicurigai berasal dari luar negeri karena ada tulisan copyright PIB, Box 6, Copenhagen. Komik Put On karya Kho Wang Gie di koran Sin Po juga bisa dikategorikan sebagai komik Indonesia generasi awal, terbit sekitar tahun 1931.
Indonesia mencapai puncak keemasan komik pada tahun 60-an sampai awal tahun 80an. Beberapa komik yang terkenal adalah: Gundala karya Hasmi, Godam karya Wid NS, Gina karya Gerdi Wiratakusuma, Kelelawar karya Jan Mintaraga, dan Si Buta Dari Gua Hantu karya Ganes TH. Tokoh si Buta Dari Gua Hantu bahkan sangat populer hingga hari ini. Pun telah berkali-kali diangkat ke layar lebar maupun layar kaca.
Lepas tahun 90-an komik Indonesia mulai menjadi anak tiri di negeri sendiri. Dikarenakan membanjirnya manga-manga Jepang. Kesederhanaan manga dan gaya penggambaran manga yang filmis (seperti film) membuat pasar lebih condong ke manga. Penerbit pun kurang tertarik pada komik negeri sendiri. Hal ini membuat para komikus menerbitkan komik mereka secara underground (mandiri). Lahirlah Bangor karya Raditya Eka Permana dan Wanter karya Dedi Rosadi. Menjelang tahun 2000 muncul semangat untuk menghidupkan kembali komik Indonesia. Lalu dibuatlah situs http://www.komik indonesia.com, dan gerakan cinta komik anak negeri. Hasilnya cukup membanggakan. Komik pahlawan perempuan Gina karya Gerdi Wiratakusuma diterbitkan kembali, kemudian terbit antologi komik ‘Jogja 5,6 SR’ yang bertujuan untuk mengenang gempa Jogja satu setengah tahun lalu. Selain itu juga terbit komik-komik lainnya seperti Alakazam (Donny), Dua Warna (Alfi Zachkyelle) dan Tomat (Rachmat Riyadi). Juga diadakan Pekan Komik Nasional untuk memancing kembali ketertarikan masyarakat terhadap komik negeri sendiri. Mudah-mudahan saja di masa datang, kecintaan kita pada komik Indonesia, sama seperti kecintaan rakyat Jepang pada manga.
Ayo kita dukung komik Indonesia!
(id.wikipedia/komikin donesia. com/sinar harapan.co.id/ruangba ca.com)

Iklan
  1. #1 by singo on 18 Februari 2008 - 18:13

    gw mau gabung komunitas lo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: